LEARN / ARTICLE
Udara Sehat di Rumah: Mengapa Itu Penting dan Bagaimana Kamu Bisa Meningkatkannya
Kesehatan di rumah bukan hanya tentang apa yang ada di piringmu atau seberapa banyak kamu bergerak, tapi juga ada pada udara yang kamu hirup.
Udara yang baik membantu kamu beristirahat lebih nyenyak, fokus lebih jelas, dan bangun dengan perasaan segar. Terutama di kota-kota yang udaranya sering tercemar, kualitas udara di dalam rumah layak mendapatkan perhatian yang sama.
Bagaimana udara luar dan sumber dalam ruangan membentuk kualitas udara rumah

Studi sensor dalam-luar ruangan berskala besar menunjukkan bahwa sebagian besar PM2.5 di dalam rumah berasal dari luar. Partikel dapat masuk melalui celah kecil, jendela terbuka, dan struktur bangunan. Hubungan antara udara dalam dan luar berubah tergantung rapatnya bangunan, cuaca, dan kebiasaan sehari-hari, tetapi polanya konsisten: partikel halus dari luar sering menetapkan “baseline” untuk apa yang kita hirup di dalam ruangan.
Mengapa ini penting pada hari polusi tinggi
Saat udara luar sedang baik, baseline udara dalam ruangan cenderung rendah. Tapi pada hari yang tercemar, baseline naik, meskipun kamu tetap di dalam rumah. Tanpa perlindungan, udara dalam ruangan mengikuti lonjakan polusi luar dengan sedikit jeda dan peredaman. Itulah sebabnya ruangan bisa terasa “berat” setelah terjadi lonjakan polusi di kota: level dasar di dalam ruangan diam-diam ikut meningkat.
Apa yang ditingkatkan oleh Good Air di rumah
-
Energi lebih stabil, fokus lebih jernih. Beban partikel yang lebih rendah mendukung kenyamanan dan fokus harian.
-
Tidur malam lebih nyenyak. Baseline kamar tidur yang lebih sehat berarti lebih sedikit iritasi saat tidur.
-
Percaya diri pada hari polusi buruk. Ketika kota mengalami lonjakan polusi, rumahmu tidak perlu mengikutinya.
Ketahui kondisi hari ini
Periksa PM2.5 setiap pagi di aplikasi Nafas. Jika hari ini adalah Standard Day (>35 µg/m³) atau Really Bad Day (>90 µg/m³), perlakukan rumahmu sebagai tempat untuk mengurangi paparan dari udara luar.
Kurangi masuknya partikel saat terjadi lonjakan polusi
Tutup jendela dan pintu ketika level polusi naik untuk mengurangi infiltrasi. Fokus pada ruangan yang paling sering digunakan, terutama kamar tidur.
Gunakan filtrasi yang sesuai ukuran, per ruangan yang benar-benar kamu pakai
Gunakan air purifier yang sesuai ukuran setiap ruangan (kamar tidur, area keluarga). Nyalakan secara terus-menerus; gunakan mode Auto/Turbo saat udara luar buruk dan mode Quiet/Night saat tidur. Ganti filter sesuai jadwal untuk menjaga Good Air tetap konsisten.
Prioritaskan baseline kamar tidur
Kamu menghabiskan waktu terlama secara terus-menerus di sana. Menjaga baseline rendah sepanjang malam akan memberikan dampak positif keesokan harinya.
Lihat angkanya sekilas, jangan berlebihan
Periksa level udara luar di aplikasi dan, jika ada, tampilan kualitas udara dalam ruangan. Targetkan angka rendah yang stabil di dalam rumah, bahkan ketika polusi kota sedang melonjak.
Perubahan Kecil yang Terasa
Bagian terbaiknya, udara dalam ruangan yang lebih sehat tidak memerlukan renovasi besar. Semuanya dimulai dari kebiasaan yang sederhana dan konsisten: memeriksa kualitas udara, ventilasi di waktu yang tepat, menggunakan filtrasi yang benar, dan merawat sistem aliran udara di rumahmu. Seiring waktu, langkah-langkah kecil ini berdampak besar, nafas lebih lega, lebih sedikit ketidaknyamanan, pagi yang lebih stabil, dan rumah yang terasa bukan hanya nyaman, tapi benar-benar memulihkan. Apa yang kamu hirup di dalam ruangan membentuk bagaimana kamu merasa setiap hari.
Udara yang baik di rumah dapat mengubah bagaimana kamu merasa sepanjang hari. Ketika udara kamar tidur lebih sehat, kamu tidur lebih nyenyak dan bangun lebih segar, dengan sedikit gangguan sepanjang malam. Level partikel yang lebih rendah juga menciptakan lingkungan yang lebih nyaman untuk semua orang, terutama anak-anak dan orang tua, mengurangi iritasi dan membantu meningkatkan fokus. Dan ketika kualitas udara di dalam rumah terkelola dengan baik, pagi terasa lebih tenang dan polusi luar tidak terasa terlalu membebani, karena tubuhmu memulai hari dengan baseline yang lebih bersih.
Reference :
Lunderberg, D. M., Liang, Y., Singer, B. C., Apte, J. S., Nazaroff, W. W., & Goldstein, A. H. (2023). Assessing residential PM2.5 concentrations and infiltration factors with high spatiotemporal resolution using crowdsourced sensors. Proceedings of the National Academy of Sciences, 120, e2308832120.
https://doi.org/10.1073/pnas.2308832120
Hattori, S., Iwamatsu, T., Miura, T., Tsutsumi, F., & Tanaka, N. (2022). Investigation of indoor air quality in residential buildings by measuring CO₂ concentration and a questionnaire survey. Sensors, 22(19), 7331.https://doi.org/10.3390/s22197331
Pikmann, J., et al. (2024). Particulate emissions from cooking. Atmospheric Chemistry and Physics, 24, 12295–12321.https://doi.org/10.5194/acp-24-12295-2024
Tang, R., Sahu, R., Su, Y., et al. (2024). Impact of cooking methods on indoor air quality: A comparative study of particulate matter (PM) and volatile organic compound (VOC) emissions.Journal of Environmental and Public Health, 2024, 6355613.
https://doi.org/10.1155/2024/6355613
Akteruzzaman, M., Rahman, M. A., Rabbi, F. M., Asharof, S., Rofi, M. M., Hasan, M. K., & Rahaman, M. H. (2023). The impacts of cooking and indoor air quality assessment in the southwestern region of Bangladesh. Heliyon, 9, e12852. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e12852