Enterprise & gedung

Berbasis asesmen. Developer, pemilik aset, FM, MEP, pemerintah, sekolah, layanan kesehatan, perhotelan.

Ajukan asesmen

Enterprise & gedung

Berbasis asesmen. Developer, pemilik aset, FM, MEP, pemerintah, sekolah, layanan kesehatan, perhotelan.

Cara Kerja

Bilang air purifier nggak penting sama saja dengan bilang kualitas hidup nggak penting.

Rene Suhardono

Tonton Video

Bagi Rene, udara bersih adalah bagian dari hidup yang baik.

Lahir dan besar di Jakarta, Rene Suhardono sudah enam tahun tinggal bersama keluarganya di sebuah apartemen di Jakarta Selatan.

Baginya, pentingnya udara bermuara pada hal yang sederhana. Kita bisa bertahan berhari-hari tanpa makan dan berjam-jam tanpa minum. Tapi kita tidak bisa lama tanpa bernapas. Dan kalau bernapas adalah sesuatu yang kita lakukan setiap saat, setiap hari, Rene percaya kualitas udara yang kita hirup layak mendapat perhatian lebih.

Dulu, hal itu tidak selalu dia pikirkan di rumah.

Seperti banyak orang, Rene biasa membuka pintu dan jendela setiap pagi. Rasanya wajar saja: buka jendela, biarkan udara segar masuk.

Tinggal dengan Clean Air Zone dari Nafas membuatnya mempertanyakan kebiasaan itu.

Alih-alih menganggap udara luar pasti lebih baik, sekarang Rene bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan udara di sekitar rumahnya. Informasi itu kini jadi bagian dari cara keluarganya mengambil keputusan sehari-hari: kapan membuka jendela, kapan menutupnya, dan kapan membiarkan Clean Air Zone terus melindungi udara di dalam rumah.

"Sekarang kami benar-benar memutuskan kapan membuka jendela dan pintu, dan kapan menutupnya."

Rumahnya menceritakan hal yang sama.

Sepanjang April sampai Juni 2026, rumah Rene mencatat median PM2.5 di dalam ruangan 10.3 µg/m³, dibandingkan 47.2 µg/m³ di luar.

Artinya, udara di dalam rumahnya 4.6× lebih bersih daripada di luar selama tiga bulan itu.

Perlindungan itu tetap bertahan meski kondisi di luar berubah cukup drastis. PM2.5 di luar naik dari 35.4 µg/m³ di bulan April menjadi 64 µg/m³ di bulan Juni, sementara level di dalam ruangan tetap di rentang yang jauh lebih sempit, yaitu 9.7 sampai 12.7 µg/m³.

Mei adalah bulan terbaik Rene.

Rumahnya mencapai Healthy Home Score 93.3, dengan PM2.5 di dalam ruangan 8.8 µg/m³ dibandingkan 44.9 µg/m³ di luar. Artinya, udara di dalam rumah 5.1× lebih bersih.

Tapi perubahan paling berarti bukan cuma yang dia lihat di data.

Melainkan yang dia rasakan di rumah.

Grafik: skor selama 4 bulan di rumah Rene
Grafik: PM2.5 dalam ruangan dibandingkan udara luar di rumah Rene

Perbedaan terbesar bagi Rene terasa di malam hari.

"Kalau ditanya perubahan apa yang paling aku rasakan, jawabannya kualitas tidurku."

Menurut Rene, tidur yang lebih nyenyak adalah salah satu perubahan yang dia dan keluarganya rasakan sejak tinggal dengan Clean Air Zone.

Ini juga membuatnya berpikir ulang soal jam-jam yang kita habiskan untuk tidur. Di malam hari, pintu dan jendela mungkin tertutup, tapi bukan berarti udara luar tetap di luar. Kata Rene, udara bisa masuk bahkan lewat celah yang paling kecil.

Suatu pagi membuat hal itu terasa sangat nyata baginya.

Rene bangun dan melihat angka kualitas udara luar yang langsung menarik perhatiannya. Kondisinya cukup buruk sampai membuatnya bertanya-tanya, apa jadinya kalau semalaman dia menghirup udara seperti itu tanpa sadar.

"Kalau aku tidur dengan kualitas udara seperti ini, apa dampaknya?"

Data rumahnya menjawab kekhawatiran itu. Meski kondisi di luar naik turun cukup jauh dari hari ke hari, PM2.5 yang terukur di dalam rumahnya tetap konsisten lebih rendah.

Di bulan Mei, rata-rata PM2.5 di luar 44.9 μg/m³, sementara rumahnya menjaga level di dalam ruangan di 8.8 μg/m³.

Rene tidak perlu menebak-nebak lagi soal perbedaannya. Dia bisa melihatnya sendiri.

Hubungan yang berbeda dengan rumah

Bagi Rene, Clean Air Zone mengubah lebih dari sekadar udara di dalam apartemennya. Clean Air Zone juga mengubah cara dia memandang udara.

Hal sesederhana membuka jendela di pagi hari kini jadi keputusan yang didasari informasi. Dia bisa memahami apa yang terjadi di sekitar rumahnya, tahu kapan udara di dalam perlu dilindungi, dan membiarkan sistem bekerja.

Dan di malam hari, saat dia sama sekali tidak memikirkan udara, rumahnya tetap terlindungi.

Bagi seseorang yang percaya bahwa kualitas udara yang kita hirup adalah bagian dari kualitas hidup kita, itu penting.

"Ini mungkin bukan cuma aku yang mengalami. Bisa jadi ini terjadi di seluruh Jakarta. Tapi sekarang, sudah ada solusinya. Tunggu apa lagi?"