ID
Enterprise & gedung
Berbasis asesmen. Developer, pemilik aset, FM, MEP, pemerintah, sekolah, layanan kesehatan, perhotelan.
Ajukan asesmen
Enterprise & gedung
Berbasis asesmen. Developer, pemilik aset, FM, MEP, pemerintah, sekolah, layanan kesehatan, perhotelan.
Hardware
Lini produk kami.
Untuk Bisnis
Enterprise & gedung
Berbasis asesmen. Developer, pemilik aset, FM, MEP, pemerintah, sekolah, layanan kesehatan, perhotelan.
Untuk Rumah
Cara Kerja
Teknologi
HARDWARE
Lini produk kami
Wilayah dan Bahasa
Antoine de Carbonnel
Tonton Video
Setiap rumah punya rutinitasnya sendiri. Kopi pertama di pagi hari.
Sepatu yang ditaruh di dekat pintu. Kursi favorit yang ujung-ujungnya diduduki semua orang.
Ada hal-hal yang diam-diam jadi bagian dari keseharian tanpa kita sadari.
Udara salah satunya. Kamu tidak melihatnya. Kamu tidak memikirkannya.
Kamu cuma berharap udara selalu ada.
Selama bertahun-tahun, begitulah yang Antoine rasakan.
"Sebelum 2020, aku benar-benar nggak pernah memikirkan kualitas udara."
Bukan karena dia tidak peduli. Tapi karena, seperti kebanyakan dari kita, dia tidak pernah punya alasan untuk memikirkannya. Semua berubah saat tinggal di Jakarta membuatnya bertanya sesuatu yang belum pernah dia tanyakan.
Kalau di sinilah keluargaku menghabiskan sebagian besar waktu, udara seperti apa yang sebenarnya kami hirup?

Seperti banyak keluarga lain, Antoine dan istrinya menghabiskan sebagian besar waktu di dalam rumah bersama dua anak mereka yang masih kecil.
Rumah adalah tempat bekerja. Tempat malam berjalan lebih pelan. Tempat buku dibaca, makanan dinikmati bersama, dan dongeng sebelum tidur diceritakan.
"Anak kami dua. Kami banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.
Cuacanya cukup panas dan polusinya cukup parah, jadi kami lebih banyak di dalam rumah."
Seperti banyak orang, Antoine mengira berada di dalam ruangan otomatis berarti menghirup udara yang lebih sehat. Rasanya lebih tenang. Lebih aman. Terlindung dari semua yang terjadi di luar. Lalu dia mulai mengukurnya.
"Waktu pertama kali sadar udara di dalam kadang malah lebih buruk daripada di luar, aku cukup kaget."
Momen itu mengubah arah pembicaraan. Kekhawatirannya bukan lagi sekadar polusi kota. Sekarang soalnya adalah menciptakan rumah tempat keluarganya bisa menghirup udara yang lebih sehat setiap hari.
"Begitu melihatnya, aku langsung kepikiran anak-anakku.
Bagaimana caranya memperbaiki kualitas udara secepat mungkin?"
Memahami udara tidak membuat hidup jadi lebih rumit. Justru yang tak terlihat jadi terlihat.
Hari ini, rumah Antoine konsisten mempertahankan Healthy Home Score 96.3, masuk dalam kategori Excellent.
Udara di dalam rumahnya juga tetap 5.3× lebih sehat daripada udara luar, dengan rata-rata PM2.5 di dalam ruangan 9.1 μg/m³.
Dia tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah udara hari ini cukup baik. Sekarang dia yakin tempat keluarganya paling banyak menghabiskan waktu terus menjaga udaranya tetap sehat.


Setiap rumah punya rutinitasnya sendiri. Kopi pertama di pagi hari.
Sepatu yang ditaruh di dekat pintu. Kursi favorit yang ujung-ujungnya diduduki semua orang.
Ada hal-hal yang diam-diam jadi bagian dari keseharian tanpa kita sadari.
Udara salah satunya. Kamu tidak melihatnya. Kamu tidak memikirkannya.
Kamu cuma berharap udara selalu ada.
Selama bertahun-tahun, begitulah yang Antoine rasakan.
"Sebelum 2020, aku benar-benar nggak pernah memikirkan kualitas udara."
Bukan karena dia tidak peduli. Tapi karena, seperti kebanyakan dari kita, dia tidak pernah punya alasan untuk memikirkannya. Semua berubah saat tinggal di Jakarta membuatnya bertanya sesuatu yang belum pernah dia tanyakan.
Kalau di sinilah keluargaku menghabiskan sebagian besar waktu, udara seperti apa yang sebenarnya kami hirup?
Seperti banyak keluarga lain, Antoine dan istrinya menghabiskan sebagian besar waktu di dalam rumah bersama dua anak mereka yang masih kecil.
Rumah adalah tempat bekerja. Tempat malam berjalan lebih pelan. Tempat buku dibaca, makanan dinikmati bersama, dan dongeng sebelum tidur diceritakan.
"Anak kami dua. Kami banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.
Cuacanya cukup panas dan polusinya cukup parah, jadi kami lebih banyak di dalam rumah."
Seperti banyak orang, Antoine mengira berada di dalam ruangan otomatis berarti menghirup udara yang lebih sehat. Rasanya lebih tenang. Lebih aman. Terlindung dari semua yang terjadi di luar. Lalu dia mulai mengukurnya.
"Waktu pertama kali sadar udara di dalam kadang malah lebih buruk daripada di luar, aku cukup kaget."
Momen itu mengubah arah pembicaraan. Kekhawatirannya bukan lagi sekadar polusi kota. Sekarang soalnya adalah menciptakan rumah tempat keluarganya bisa menghirup udara yang lebih sehat setiap hari.
"Begitu melihatnya, aku langsung kepikiran anak-anakku.
Bagaimana caranya memperbaiki kualitas udara secepat mungkin?"



Memahami udara tidak membuat hidup jadi lebih rumit. Justru yang tak terlihat jadi terlihat.
Hari ini, rumah Antoine konsisten mempertahankan Healthy Home Score 96.3, masuk dalam kategori Excellent.
Udara di dalam rumahnya juga tetap 5.3× lebih sehat daripada udara luar, dengan rata-rata PM2.5 di dalam ruangan 9.1 μg/m³.
Dia tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah udara hari ini cukup baik. Sekarang dia yakin tempat keluarganya paling banyak menghabiskan waktu terus menjaga udaranya tetap sehat.
Setiap rumah punya rutinitasnya sendiri. Kopi pertama di pagi hari. Sepatu yang ditaruh di dekat pintu. Kursi favorit yang ujung-ujungnya diduduki semua orang.
Ada hal-hal yang diam-diam jadi bagian dari keseharian tanpa kita sadari. Udara salah satunya. Kamu tidak melihatnya. Kamu tidak memikirkannya. Kamu cuma berharap udara selalu ada.
Selama bertahun-tahun, begitulah yang Antoine rasakan.
"Sebelum 2020, aku benar-benar nggak pernah memikirkan kualitas udara."
Bukan karena dia tidak peduli. Tapi karena, seperti kebanyakan dari kita, dia tidak pernah punya alasan untuk memikirkannya. Semua berubah saat tinggal di Jakarta membuatnya bertanya sesuatu yang belum pernah dia tanyakan.
Kalau di sinilah keluargaku menghabiskan sebagian besar waktu, udara seperti apa yang sebenarnya kami hirup?
Seperti banyak keluarga lain, Antoine dan istrinya menghabiskan sebagian besar waktu di dalam rumah bersama dua anak mereka yang masih kecil.
Rumah adalah tempat bekerja. Tempat malam berjalan lebih pelan. Tempat buku dibaca, makanan dinikmati bersama, dan dongeng sebelum tidur diceritakan.
"Anak kami dua. Kami banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Cuacanya cukup panas dan polusinya cukup parah, jadi kami lebih banyak di dalam rumah."
Seperti banyak orang, Antoine mengira berada di dalam ruangan otomatis berarti menghirup udara yang lebih sehat. Rasanya lebih tenang. Lebih aman. Terlindung dari semua yang terjadi di luar. Lalu dia mulai mengukurnya.
"Waktu pertama kali sadar udara di dalam kadang malah lebih buruk daripada di luar, aku cukup kaget."
Momen itu mengubah arah pembicaraan. Kekhawatirannya bukan lagi sekadar polusi kota. Sekarang soalnya adalah menciptakan rumah tempat keluarganya bisa menghirup udara yang lebih sehat setiap hari.
"Begitu melihatnya, aku langsung kepikiran anak-anakku. Bagaimana caranya memperbaiki kualitas udara secepat mungkin?"



Memahami udara tidak membuat hidup jadi lebih rumit. Justru yang tak terlihat jadi terlihat.
Hari ini, rumah Antoine konsisten mempertahankan Healthy Home Score 96.3, masuk dalam kategori Excellent.
Udara di dalam rumahnya juga tetap 5.3× lebih sehat daripada udara luar, dengan rata-rata PM2.5 di dalam ruangan 9.1 μg/m³.
Dia tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah udara hari ini cukup baik. Sekarang dia yakin tempat keluarganya paling banyak menghabiskan waktu terus menjaga udaranya tetap sehat.
Lama-lama, mengecek udara bukan lagi soal rasa penasaran, tapi soal rasa tenang.
Kadang sebelum dia berangkat beraktivitas.
Kadang saat dia sedang di kantor.
Kadang dia cuma ingin melihat bagaimana rumahnya merespons momen sehari-hari, seperti memasak makan malam atau membuka pintu depan.
"Ini jadi bagian dari rutinitas harianku."
Angka-angka itu tidak jadi satu lagi hal yang perlu dikhawatirkan.
Justru jadi penenang.
Pengingat yang tenang bahwa rumahnya bekerja sebagaimana mestinya.
Perubahan terbesarnya bukan skornya. Bukan aplikasinya. Bahkan bukan teknologinya.
Tapi rasa tahu bahwa tempat keluarganya menghabiskan sebagian besar hidup mereka terus mendukung lingkungan rumah yang lebih sehat.
"Nafas membuat kami merasa tenang. Rasanya aman."
Dia tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah udara hari ini baik-baik saja. Antoine bisa fokus pada semua hal lain yang membuat rumah benar-benar terasa seperti rumah. Membaca bersama. Makan bersama. Melihat anak-anaknya tumbuh. Karena udara yang lebih sehat bukan sesuatu yang ingin dia pikirkan setiap hari.
Dia ingin bisa memercayainya begitu saja.
Udara di dalam rumah Antoine tetap tak terlihat. Tapi cara dia memandangnya sudah berubah total.
Menciptakan rumah yang lebih sehat bukan soal mengubah gaya hidup keluarganya. Ini soal lebih memahami tempat di mana hidup mereka sudah berjalan.
Hari ini, udara yang lebih sehat diam-diam sudah jadi bagian dari keseharian. Dan mungkin itulah hasil terbaiknya. Karena rumah terbaik tidak mengingatkanmu bahwa ia sedang bekerja.
Rumah terbaik cukup membiarkanmu menjalani hidup.
Lama-lama, mengecek udara bukan lagi soal rasa penasaran, tapi soal rasa tenang.
Kadang sebelum dia berangkat beraktivitas.
Kadang saat dia sedang di kantor.
Kadang dia cuma ingin melihat bagaimana rumahnya merespons momen sehari-hari, seperti memasak makan malam atau membuka pintu depan.
"Ini jadi bagian dari rutinitas harianku."
Angka-angka itu tidak jadi satu lagi hal yang perlu dikhawatirkan.
Justru jadi penenang.
Pengingat yang tenang bahwa rumahnya bekerja sebagaimana mestinya.
Perubahan terbesarnya bukan skornya. Bukan aplikasinya. Bahkan bukan teknologinya.
Tapi rasa tahu bahwa tempat keluarganya menghabiskan sebagian besar hidup mereka terus mendukung lingkungan rumah yang lebih sehat.
"Nafas membuat kami merasa tenang. Rasanya aman."
Dia tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah udara hari ini baik-baik saja. Antoine bisa fokus pada semua hal lain yang membuat rumah benar-benar terasa seperti rumah. Membaca bersama. Makan bersama. Melihat anak-anaknya tumbuh. Karena udara yang lebih sehat bukan sesuatu yang ingin dia pikirkan setiap hari.
Dia ingin bisa memercayainya begitu saja.
Udara di dalam rumah Antoine tetap tak terlihat. Tapi cara dia memandangnya sudah berubah total.
Menciptakan rumah yang lebih sehat bukan soal mengubah gaya hidup keluarganya. Ini soal lebih memahami tempat di mana hidup mereka sudah berjalan.
Hari ini, udara yang lebih sehat diam-diam sudah jadi bagian dari keseharian. Dan mungkin itulah hasil terbaiknya. Karena rumah terbaik tidak mengingatkanmu bahwa ia sedang bekerja.
Rumah terbaik cukup membiarkanmu menjalani hidup.